Sondag, 21 April 2013

Kabupaten Klaten

 
KABUPATEN KLATEN

Kabupaten Klaten adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah berada dibagian selatan dengan ibukotanya Kota Klaten, kabupaten ini mempunyai luas wilayah 655,56 ha. Secara geografis wilayahnya diapit oleh gunung Merapi dan pegunungan Seribu terletak diantara 7º  30?  – 7º 45? Selatan dan 110º  30? - 110º 45? Bujur Timur, secara administratif   berbatasan dengan Kabupaten Boyolai di sebelah utara, Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur, Kabupaten Sleman (DIY) di sebelah barat, Kabupaten Gunung Kidul (DIY) di sebelah Selatan.  Posisi Klaten sangat strategis berada pada jalur utama Kota Yogyakarta yang berjarak sekitar 28 km  dan Kota Surakarta yang berjarak sekitar 35 km.
Daya Tarik Wisata Kabupaten Klaten meliputi, Candi Prambanan, Candi Bubrah, Candi Asu, Candi Sewu, Candi Merak Rowo Jombor, Deles Indah, Sumber Air Ingas, Sendang Sinongko, Sendang Bulus Jimbun, Candi Prambanan, Candi Plaosan, Makam Ki Ageng Pandanaran, Makam R. Ng. Ronggowarsito, Makam Ki Ageng Gribig, Makam Ki Ageng Perwito, Museum GulaPesanggrahan PB X, Pemandian Jolotundo, Pemandian Lumbantirto, Pemandian Tirtomoyo, Desa Wisata Melikan, Desa Wisata Duwet.
alt
Candi Prambanan
adalah mahakarya kebudayaan Hindu dari abad ke-10. Bangunannya yang langsing dan menjulang setinggi 47 meter membuat kecantikan arsitekturnya tak tertandingi.
Candi Prambanan adalah bangunan luar biasa cantik yang dibangun di abad ke-10 pada masa pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Menjulang setinggi 47 meter (5 meter lebih tinggi dari Candi Borobudur, berdirinya candi ini telah memenuhi keinginan pembuatnya, menunjukkan kejayaan Hindu di tanah Jawa, di tengah area yang kini dibangun taman indah.
Ada sebuah legenda yang selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang candi ini. Alkisah, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam. Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi.
Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Ketiga candi itu menghadap ke timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi. Memasuki candi Siwa yang terletak di tengah dan bangunannya paling tinggi, anda akan menemui 4 buah ruangan. Satu ruangan utama berisi arca Siwa, sementara 3 ruangan yang lain masing-masing berisi arca Durga (istri Siwa), Agastya (guru Siwa), dan Ganesha (putra Siwa). Arca Durga itulah yang disebut-sebut sebagai arca Roro Jonggrang dalam legenda yang diceritakan di atas.
Di Candi Wisnu yang terletak di sebelah utara candi Siwa, anda hanya akan menjumpai satu ruangan yang berisi arca Wisnu. Demikian juga Candi Brahma yang terletak di sebelah selatan Candi Siwa, anda juga hanya akan menemukan satu ruangan berisi arca Brahma. Candi pendamping yang cukup memikat adalah Candi Garuda yang terletak di dekat Candi Wisnu. Candi ini menyimpan kisah tentang sosok manusia setengah burung yang bernama Garuda. Garuda merupakan burung mistik dalam mitologi Hindu yang bertubuh emas, berwajah putih, bersayap merah, berparuh dan bersayap mirip elang. Diperkirakan, sosok itu adalah adaptasi Hindu atas sosok Bennu (berarti 'terbit' atau 'bersinar', biasa diasosiasikan dengan Dewa Re) dalam mitologi Mesir Kuno atau Phoenix dalam mitologi Yunani Kuno. Garuda bisa menyelamatkan ibunya dari kutukan Aruna (kakak Garuda yang terlahir cacat) dengan mencuri Tirta Amerta (air suci para dewa).
Prambanan juga memiliki relief candi yang memuat kisah Ramayana. Menurut para ahli, relief itu mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan lewat tradisi lisan.
alt

Candi Sewu
merupakan kompleks candi berlatar belakang agama Buddha terbesar di Jawa tengah di samping Borobudur, yang di bangun pada akhir abad VIII M. Ditinjau dari luas dan banyaknya bangunan yang ada di dalam kompleks, diduga Candi Sewu dahulu merupakan candi kerajaan dan salah satu pusat kegiatan keagamaan yang cukup penting pada jamannya. Sedangkan dilihat dari lokasi, letak Candi Sewu yang tidak jauh dari Candi Prambanan, menunjukkan bahwa pada saat itu dua agama besar dunia yaitu Hindu dan Buddha berdampingan secara damai.
alt
Candi Plaosan
Terletak di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Percandian ini terdiri dari dua kelompok bangunan candi yaitu Plaosan Lord an Plaosan Kidul. Plaosan Lor memiliki dua candi utama dalam posisi berjajar utara – selatan dan menghadap ke barat, sedangkan Plaosan Kidul berada disebelah utaranya, berupa sebuah batur pendopo yang dikelilingi dua deret stupa. Kedua candi utama memiliki halaman sendiri-sendiri yang dibatasi pagar batu dengan pintu-pintu gerbang. Kedua halaman dikelilingi oleh tiga deret candi perwara dan stupa yang berjumlah 174 buah. Candi ini dibangun pada pertengahan abad 9 Masehi oleh Rakai Pikatan sebagai hadiah kepada permaisurinya. Kelompok candi Plaosan Lor (utara) terdiri atas 2 candi induk, 58 Perwara dan 126 buah stupa. Kelompok candi Plaosan Kidul (selatan) hanya berupa sebuah candi. Halaman candi induk terbagi 2 yang masing-masing diatasnya berdiri sebuah biara bertingkat dua. Tingkat atas untuk tempat tinggal para pendeta Budha dan tingkat bawah untuk kegiatan keagamaan. Alam nan permai disekitamya. Bangunan ini sangat unik, berbeda dengan bangunan bangunan sesamanya dan lebih mengesankan sebuah kraton (istana). Diperkirakan Balaputera Dewa dari dinasti Syailendra yang beragama Budha mendirikannya pada pertengahan abad 9 Masehi sebagai benteng pertahanan strategis terhadap Rakai Pikatan.
alt
Makam Sunan Pandanaran – Bayat
Makam ini juga dikenal dengan nama makam Sunan Bayat, merupakan makam seorang ulama penyebar agama Islam. Terletak di Desa Paseban, Kec. Bayat, berjarak sekitar 15 km dari Kota Klaten kearah  selatan.
Makamnya terletak di atas bukit. Kompleks makam Tembayat ini sendiri dibangun sejak tahun 1526 (sengkala: murti sarira jleging ratu) dengan nuansa Hindu yang sangat kental. Jadi lebih tua dari makam Imogiri. Desain kompleks makam ini mengikuti pandangan kosmologis masyarakat Jawa. Begitu masuk, sudah disamput gapura Segara Muncar yang berbentuk candi bentar. Gapura ini sekarang sudah menyatu dengan kompleks permukiman warga dan berdiri di sudut lapangan balai desa. Agak naik ke atas, kita akan bertemu gapura Dhuda, juga berupa candi bentar. Berturut-turut akan menemui gapura Pangrantunan berbentuk paduraksa tanpa pintu, gapura Panemut yang berbentuk candi bentar, gapura Pamuncar seperti gapura Panemut, dan gapura Bale Kencur yang berbentuk paduraksa yang berdaun pintu.  Setelah gapura terakhir, kita akan menemui masjid usianya setua usia kompleks makam ini. Ukurannya kecil, bahkan untuk masuk masjid harus menundukkan kepala. Arsitektur majsid jawa dengan 4 soko guru. Bahan kayu yang dipakai untuk sokoguru, pintu, dan jendela masih asli. Bedung yang sudah termakan usia juga masih ada, ditaruh di luar. Makam tersebut terletak di dalam sebuah bangunan yang luas dan tertutup (lihat foto bawah), dengan tembok yang tebal. Di dalam ruangan, makam tersebut juga ditutupi oleh bangunan dari kayu, dengan selambu kain warna putih.. Di sekitar bangunan tersebut juga terdapat senjata tombak dan payung.
alt
Makam R. Ng. Ranggawarsita
Makam R. Ng. Ranggawarsita terletak di Desa Palar Kab. Klaten, banyak dikunjungi oleh para peziarah terutama kaum cerdik karena diyakini bahwa beliau seorang cendikiawan yang patut diteladani.
R. Ng. Ranggawarsita sewaktu muda Burham terkenal nakal dan gemar judi. Ia dikirim kakeknya untuk berguru agama Islam pada Kyai Imam Besari pemimpin Pesantren Gebang Tinatar di Desa Tegalsari (Ponorogo). Pada mulanya ia tetap saja bandel, bahkan sampai kabur ke Madiun. Setelah kembali ke Ponorogo, konon, ia mendapat "pencerahan" di Sungai Kedungwatu, sehingga berubah menjadi pemuda alim yang pandai mengaji. Bagus Burham diangkat sebagai Panewu Carik Kadipaten Anom bergelar Raden Ngabei Ronggowarsito, menggantikan ayahnya yang meninggal di penjara Belanda tahun 1830. Lalu setelah kematian kakeknya (Yasadipura II), Ranggawarsita diangkat sebagai pujangga keraton Surakarta oleh Pakubuwana VII pada tanggal 14 September 1845.
Pada masa inilah Ranggawarsita melahirkan banyak karya sastra. Hubungannya dengan Pakubuwana VII juga sangat harmonis. Ia juga dikenal sebagai peramal ulung dengan berbagai macam ilmu kesaktian. Naskah-naskah babad cenderung bersifat simbolis dalam menggambarkan keistimewaan Ranggawarsita. Misalnya, ia dikisahkan mengerti bahasa binatang. Ini merupakan simbol bahwa, Ranggawarsita peka terhadap keluh kesah rakyat kecil. Ranggawarsita meninggal dunia secara misterius tanggal 24 Desember 1873. Anehnya, tanggal kematian tersebut justru terdapat dalam karya terakhirnya, yaitu Serat Sabdajati yang ia tulis sendiri. Hal ini menimbulkan dugaan kalau Ranggawarsita meninggal karena dihukum mati, sehingga ia bisa mengetahui dengan persis kapan hari kematiannya.
alt
Makam Ki Ageng Gribig
Ki Ageng Gribig yang bernama asli Wasibagno Timur atau ada yang menyebutkan Syekh Wasihatno, merupakan keturunan Prabu Brawijaya V dari Majapahit. Yang mana disebutkan bahwa beliau adalah putra dari Raden  Mas Guntur atau Prabu Wasi Jaladara atau Bandara Putih, putra dari Jaka Dolog adalah putra Prabu Brawijaya V raja terakhir kerajaan Majapahit. Ia adalah seorang ulama besar yang memperjuangkan Islam di pulau Jawa, tepatnya di Desa Krajan, Jatinom, Klaten
Banyak peninggalan-peninggalan beliau yang menjadi bukti sejarah bahwa Ki Ageng Gribig adalah ulama besar yang berhasil dalam dakwahnya. Salah satu peninggalannya adalah Masjid Besar Jatinom yang dulu dijadikan pusat belajar mengajar, serta tongkat beliau yang sampai sekarang dijadikan sebagai tongkat Khotib ketika shalat Jum'at, serta kolam wudhu yang konon adalah tempat wudhu Ki Ageng Gribig beserta santrinya yang berjarak 50 meter dari Masjid yang bernama Sendang Plampeyan, Gua Suran dan juga Gua Belan. Gua Suran letaknya tak jauh dari Mesjid Besar Jatinom. Gua ini, dulunya, adalah tempat bersemedi Ki Ageng Gribig. Konon, ular dan macan menjadi penjaganya, saat ia bersemedi. Meski berbentuk terowongan, Gua Suran ini tidak terlalu dalam, bahkan lebarnya hanya selebar tubuh manusia. Tingginya, memaksa orang yang masuk ke dalam untuk merunduk, agar tak terantuk atap gua. Tak jauh dari Gua Suran ini, Ki Ageng Gribig sempat memanfaatkan sebuah bangunan kecil sebagai tempat ibadah, saat ia pertama kali datang ke Jatinom.
alt

Jombor Permai
Kawasan Rawa Jombor merupakan daya tarik wisata yang memiliki potensi yang baik dengan pemandangan alamnya yang indah. Rawa Jombor mempunyai fungsi sebagai irigasi, perikanan dan rekreasi. Rawa Jombor terletak di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten atau sebelah selatan sejauh 15 kilometer dari Kota Klaten. Merupakan daerah wisata alam dipadukan dengan kuliner hidangan air tawar. Warung apung sebetulnya hanyalah sebuah bangunan yang mengapung di atas air. Namun warung apung di Rawa Jombor ini memberikan daya tarik tersendiri berikut nuansa kuliner yang ditawarkan. Jumlah warung apung di Rawa Jombor ini cukup banyak dan dibatasi per kapling, para pengunjung tinggal memilih warung apung yang akan dijadikan tempat untuk menikmati wisata kuliner di Rawa Jombor
alt
Dales Indah
Deles Indah merupakan Obyek Wisata yang terletak di lereng kaki gunung Merapi sebelah timur ± 25 km dari Kota Klaten, Deles berada di Wilayah Desa Sidorejo Kecamatan Kemalang, dengan ketinggian antara 800 m – 1300 m diatas permukaan laut. Deles mempunyai potensi spesifik suasana pemandangan alam pegunungan. Dari obyek wisata deles dapat dilihat pemandangan puncak Merapi dengan nyata, pemandangan kota Klaten yang dihiasi dengan cerobong Perusahaan Gula gondang Baru & perusahaan Ceper Baru dengan berselendangkan Rowo Jombor dengan Jajaran Gunung Kapurnya merupakan Panorama yang Indah. Di sekitar Deles Indah ini dikenal pula beberapa peninggalan sejarah dan juga tempat rekreasi khusus antara lain  : Bekas Pesanggrahan Sunan Paku Buwono X Makam Kyai Mloyopati Sendang Kali Reno Taman Rekreasi Ngajaran Taman Pemandangan Pring Cendani Gua sapuangin / Siluman
alt
Sumber Air Ingas
Merupakan pemandian dengan sumber air alami yang berasal dari umbul sekitarnya dan dengan panorama alam yang indah serta sejuk,  Terletak  di Desa Cokro, Kec. Tulung, berjarak  sekitar 17 km dari Kota Klaten kearah utara.   Sumber Air Ingas memiliki luas ± 15.000 m2 terbentang dipinggiran kali busur yang mengalir dari utara ke selatan, sehingga pengunjung yang akan memasuki obyek wisata ini harus meniti jembatan gantung yang justru merupakan daya tarik sendiri dari obyek obyek wisata yang lain. Sumber Air Ingas dengan panorama alamnya yang sejuk dan indah, dan juga disini ada kolam renang, warung warung untuk santai serta lahan untuk tempat peristirahatan yang teduh di bawah rindangnya pepohonan yang besar dan kicauan burung. Obyek wisata ini sangat ramai apabila menjelang bulan puasa tiba banyak pengunjung yang padusan di obyek ini dengan kepercayaan bahwa puasanya akan dapat lancer tanpa halangan suatu apapun harinya.
alt

Desa Wisata Melikan
Adalah sebuah desa yang penghasilan masyarakatnya dari pengrajin gerabah, 12 Km jaraknya dari Kota Klaten. Bahan baku kerajinan gerabah Melikan menggunakan tanah liat yang diperoleh dari daerah sekitar, mempunyai keunikan karena cara pembuatannya dengan tehnik putaran miring dan pengrajinnya yang kebanyakan kaum wanita sangat menjaga adat  budaya ketimuran. Produksi kerajinan keramik  Melikan sangat beragam baik jenis, ukuran , bentuk dan warnanya. Di lokasi ini  juga terdapat Guest Hose, Gedung Laboratorium bantuan pemerintah Jepang, wisata hutan, kesenian campursari larasmadya .
alt

Desa Wisata Duwet
Terletak di Kec. Ngawen, merupakan desa agraris  dengan kehidupan masyarakat yang harmonis dan masih melestarikan tradisi  serta budaya Jawa. Mempunyai daya tarik wisata  keindahan alam, kegiatan pertanian, situs sejarah candi Merak, industri kerajinan (bambu, sulak bulu ayam, wayang kulit), tradisi lokal (bersih desa, saparan, sadranan, sambatan, kumbakarnan)  dan atraksi seni budaya seperti pertunjukan wayang, karawitan dan gejog lesung, kethoprak, jathilan, dll. Selain itu para pengunjung juga dapat menikmati makanan khas berupa rengginang ketela. Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke desa wisata Duwet dapat menggunakan sarana angkutan pedesaan,  dan bagi yang ingin menginap tersedia sarana akomodasi berupa pondok wisata yang dikelola masyarakat
alt

Kuliner
Jenang Melon, yaitu jenang/semacam dodol dari buah melon yang berpusat di Kalikotes, Kec. Klaten Selatan
alt

Cinderamata
Kerajinan Tatah Sungging, produksinya berupa wayang kulit, hiasan dinding dari kulit yang ditatah dengan corak wayang dll. Terletak di Desa Sidowarno, Kec.  Wonosari.
Kerajinan Payung, hasil kerajinan payung dari kayu dan kertas, hiasan dengan bentuk paying dll.
Kerajinan Tanduk, hasil kerajinannya berupa sisir, entong, tusuk konde, asbak dan pipa rokok, lambang Garuda Pancasila dll. Terdapat di Desa Keprabon, Kec. Polanharjo.
alt
Keunikan Seni Budaya
Yaqowiyu,  Perayaan "Ya Qowiyyu" pertama kali dilakukan Ki Ageng Gribig pada hari Jumat bertepatan tanggal 15 Sapar, sebagai ungkapan rasa syukur atas pemberian nikmat Allah SWT. Rasa syukur itu diungkapkan dalam puji-pujian, berupa kalimat dalam bahasa Arab "Ya Qowiyyu", yang artinya "Allah Yang Maha Perkasa (Kuat)". Kalimat itu dilafalkan berkali-kali. Akhirnya masyarakat menamai prosesi adat itu sebagai "Ya Qowiyyu". "Ya Qowiyyu" merupakan wujud sedekah berupa makanan kepada masyarakat luas. Konon Ki Ageng Gribig bersama Sultan Agung sering shalat Tarawih dan Jumat di Makkah. Suatu hari, sepulang dari Tanah Suci, mereka membawa oleh-oleh tiga buah apem. Tapi, karena jamaah shalat pada waktu sangatlah banyak, maka tiga apem itu dicampurkan dalam apem yang dibuat sendiri untuk dibagikan sebagai oleh-oleh. Meskipun berkali-kali ditambah bahannya, akan tetapi jumlah apem itu tetap belum mencukupi jumlah jamaah yang hadir. Akhirnya Ki Ageng Gribig memutuskan untuk menyebar apem itu seusai shalat Jumat di depan Masjid Besar untuk diperebutkan. Siapa yang mendapatkan apem itu, merekalah yang mendapat berkah. Sejak itu, Ki Ageng berpesan agar jamaah menyisihkan sebagian rezeki untuk bersedekah dan memberi makan pada orang miskin. Dan pesan itu diwujudkan dalam bentuk perayaan "Ya Qowiyyu" yang terus berlangsung sampai sekarang. Meskipun beliau wafat, tradisi "Ya Qowiyyu" masih tetap dilaksanakan. Bahkan dari tahun ke tahun, pengunjung yang datang dalam ritual tersebut semakin banyak. Karena halaman masjid besar Jatinom tidak dapat menampung pengunjung, maka beberapa tahun terakhir ini, pemerintah setempat mengalihkan tempat perayaan ke pinggiran sungai yang terdapat kolam. Kolam itulah yang konon adalah tempat wudhu Ki Ageng Gribig beserta santrinya yang berjarak 50 m dari Masjid. Satu minggu sebelum perayaan "Ya Qowiyyu" dibuka secara resmi, wilayah Jatinom memang tampak ramai oleh orang-orang yang khusus datang untuk menyaksikan rangkaian perayaan tradisional yang sudah berlangsung turun temurun itu. Di antara mata acara yang digelar adalah bursa benda seni, pasar malam, pengajian akbar dan berbagai pertunjukan lainnya. Puncak datangnya para pengunjung baik dari Klaten maupun dari luar kota adalah satu hari sebelum acara penyebaran apem yang biasanya dilaksanakan pada tanggal 14 Sapar pukul 09.00 pagi WIB. Mereka datang sehari sebelumnya, dan menginap di rumah-rumah penduduk di sekitar masjid. Tujuan mereka sama, melihat perayaan tradisi tersebut dan syukur-syukur bisa merebut apem . Acara penyebaran apem diawali dengan pembacaa tahlil dan doa serta acara ritual lainnya. Panitia menyediakan dua menara beton setinggi 4 meter luas 2 x 2 meter persegi sebagai pusat penyebaran apem. Sebanyak 10 orang di masing-masing menara yang mengenakan kaos putih ditugaskan melemparkan apem ke tengah-tengah kerumunan massa. Orang-orang mengacung-acungkan tangan mereka ke arah menara agar tempat mereka berdiri diberi apem. Dan, begitu apem jatuh ke arah mereka, tanpa sungkan-sungkan mereka saling dorong dan berebutan untuk mendapatkannya. Seringkali apem yang semula utuh itu lantas hancur tatkala menjadi bahan rebutan. Ada yang kreatif menggunakan jaring yang diberi galah untuk menangkap apem yang berhamburan. Apem yang disebar dalam perayaan "Ya Qowiyyu" sampai saat ini seberat 3 ton. Begitulah tradisi perayaan "Ya Qowiyyu" yang digagas Ki Ageng Gribig, yang sampai saat ini masih diyakini oleh masyarakat setempat serta yang datang dari luar kota, sebagai perayaan yang mendatangkan berkah bagi kehidupan manusia.
Bersih desa Tanjung Sari, merupakan upacara dengan menggunakan sesaji berupa makanan dan lauk pauk lengkap serta buah-buahan dengan diiringi doa bersama.
Sendratari Roro Jonggrang, mengisahkan jalinan asmara Bandung Bondowoso dengan Dewi Roro Jonggrang yang berakhir secara tragis.



 

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking