Sondag, 21 April 2013

Cerita Rakyat Dari Klaten

Cerita Rakyat: ASAL MULA KLATEN





Berabad-abad silam, ditepi sungai Indragiri ada sebuah pondok kecil dan sudah sangat reot. Di pondok itu tinggal seorang janda dengan seorang anak laki-lakinya yang baru beranjak remaja. Anak laki-laki itu bernama Toaka. Mereka sudah tidak memiliki saudara-saudara lagi, dan hidup mereka sangat kekurangan. Pekerjaan mereka setiap hari hanya mengumpulkan kayu bakar dan kemudian ditukar kebutuhan hidup sehari-hari untuk hidup mereka.

2.
Pada suatu hari, seperti biasanya Toaka dan ibunya pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Ketika keduanya sedang asyik mengumpulkan kayu, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh dua ekor ular yang besar yang sedang berkejaran. Ular-ular itu tampaknya sedang bergumul memperebutkan sebuah benda. Keduanya saling membelit memperebutkan sebuah permata yang sangat indah berkilauan. Begitu bernafsunya ular-ular itu untuk saling membunuh, sehingga ketika permata itu terlempar sampai ditempat persembunyian Toaka dan Ibunya. Ular-ular itu tidak mempedulikannya. Ular-ula ritu tampaknya ingin membunuh lawannya terlebih dahulu, baru setelah itu mencari permatanya.

3
Permata yang berkilauan jatuh dekat sekali dengan Ibu Toaka. Tanpa berfikir panjang lagi permata itupun dipungutnya, lalu dibungkus erat-erat diujung kain selendangnya. Ibu Toaka dengan perlahan-lahan beringsut meninggalkan tempat itu dan kemudian berlari sekuat tenaga bersama Toaka. Mereka tak ingat kayu bakarnya lagi karena merasa sudah mendapatkan benda yang tak ternilai harganya. Pada malam harinya, Toaka dan Ibunya sepakat untuk menjual permata itu untuk mengentaskan hidup mereka dari kemiskinan.

4.
Pada keesokan harinya, mereka sudah berada dibandar untuk menawarkan permata dari ular itu kepada para saudagar. Namun ternyata permata permata dari ular itu termasuk jenis permata yang amat langka dan mahal harganya. Tak ada seorang saudagar pun di Indragiri yang memiliki cukup uang untuk membeli permata itu. Beruntung, kemudian datang seorang saudagar dari seberang yang sangat tertarik dengan permata itu. Namun karena uangnya banyak disimpan dirumah, maka saudagar itu mengajak Toaka ikut berlayar bersamanya.
“Berangkatlah Toaka, Ubahlah nasib kita dinegeri orang. Tapi ingat cepat-cepatlah pulang bila engkau sudah berhasil. Ibu tak akan tahan menanggung rindu,” kata ibu Toaka dengan amat sedihnya.
“Jangan kawatir, Bu. Toaka segera akan pulang dengan membawa kekayaan yang akan merubah hidup kita,” hibur Toaka dan segera melangkah naik ke sekunar (kapal layar) yang akan membawanya ke negeri seberang.

5.
Sekunar milik saudagar itu pun segera berlayar menyusuri sungai Indragiri dan kemudian berangkat ke Temasik, bandar Singapura. Toaka sangat gembira menikmati perjalanan berlayar itu, namun yang membuatnya lebih bahagia adalah bahwa tak lama lagi dia akan menjadi seorang yang kaya raya.
Singkat cerita sampailah sekunar yang dinaiki Toaka di bandar Singapura. Permata Toaka langsung dibeli oleh saudagar kaya itu. Oleh Toaka uang yang berlimpah itu sebagian digunakan untuk modal usaha berdagang. Karena keuletan dan didukung oleh modal besar, dalam waktu dua tahun saja Toaka sudah dikenal sebagai saudagar kaya-raya dibandar Singapura. Orang-orang kemudian memberi gelar Toaka saudagar muda. Rumahnya sangat besar dan bertingkat. Kedai dan tokonya tak terbilang banyaknya. Toaka pun memiliki pecalang (perahu besar untuk mengangkut barang dagangan) dan juga sekunar puluhan buah.

6.
Pada tahun ketiga, Toaka kemudian menikah dengan putri saudagar kaya raya yang elok parasnya. Putri saudagar itu bernama Nilam Sari. Toaka benar-benar sudah memiliki segalanya, rumah yang megah bagai istana, harta kekayaan yang melimpah-limpah dan istri yang cantik jelita.Toaka terlena dengan kenyamanan hidupnya dan sehingga melupakan ibunya dai kampung halaman. Pada suatu hari setelah sekian lama hidup sebagai suami-istri, Nilam Sari begitu ingin pergi ke Indragiri. Dia ingin bertemu dengan mertuanya yang sering diceritakan oleh suaminya sebagai seorang bangsawan kaya raya dari Indragiri.

7.
Akhirnya, saudagar muda Toaka tergerak pulang untuk melihat kampung halamannya. Dalam perjalanan hatinya agak resah memikirkan reaksi istrinya bila mengetahui mertuanya bukanlah seorang bangsawan kaya raya seperti yang diceritakannya. Toaka malah berharap Ibunya sudah mati sehingga tidak mempermalukan dirinya. Tanpa terasa tujuh buah sekunar yang sarat muatan mulai memasuki sungai Indragiri. Iring-iringan kapal layar itu mengiringi sebuah sekunar yang paling megah yang ditumpangi oleh saudagar muda Toaka dan Nilam Sari. Rombongan itu terus  berlayar ke udik  dan kemudian berlabuh diseuah muara cabag anak sungai Indragiri.

8.
Hati ibu Toaka berseru girang ketika mendengar kasak-kusuk bahwa rombongan saudagar yang berlabuh itu adalah saudagar muda Toaka. Maka Ibu Toaka naik ke perahu sompong miliknya dan mangayuhnya mendekati sekunar yang paling megah yang dinaiki anaknya. Saudagar muda Toaka saat itu sedang duduk-duduk bersama Nilam Sari di anjungan. Mereka sedang menikimati keindahan alam disekitar sungai Indragiri. Ibu Toaka yang sudah berada dekat sekunar itu terus memandangi saudagar kaya yang berpakaian mewah itu adalah Toaka anaknya. “Ia memang Toaka anakku,” kata ibu Toaka yakin dan mengayuh perahu sompongnya untuk lebih mendekat lagi ke sekunar.
        “Toaka….Toaka anakku!” seru Ibu Toaka sambail melambai-lambaikan tangannya ke arah anjungan sekunar.
“Toaka….Toaka ini ibumu!” teriaknya lagi.
“Siapakah orang tua berpakaian seperti pengemis itu, Kanda Toaka?” tanya Nilam Sari. “Tampaknya ia seperti mengenal betul Kakanda.”



9.
Toaka sangat terkejut mengatahui kedatangan ibunya. Perasaan malu hinggap dihatinya melihat keadaan ibunya yang tak ubahnya gelandangan itu. Dan lebih malu lagi kepada istrinya yang anak saudagar kaya.
        “Toaka! Aku ini ibumu, Toaka!” teriak ibunya berulang.
        Nilam Sari menjadi tertawa dan menghina. “ha…ha…ha…jadi itulah ibu kakanda, cuiihh! Tak sudi aku punya ibu seperti dia.”
        Bukan! Dia bukan ibuku! Mana mungkin kanda saudagar kaya raya begini beribukan gelandangan,” jawab Toaka sambil memerintahkan anak buahnya mengusir ibunya.

10.
Perasaan ibu Toaka pun menjadi hancur. Hatinya seperti disayat-sayat. Ia tak menyangka anaknya bakal mencampakkannya. Dalam kesedihannya akhirnya terucaplah sumpah ibu yang teraniaya itu.
“Toaka engkau tak pantas menjadi saudagar kaya. Engkau lebih pantas menjadi elang yang berkulik-kulik ditengah hari. Dan istrimu suka mentertawakan orang itu lebih pantas menjadi burung punai berkelekok siang hari.!”
        “Jlllaaaarrrr….!” Tiba-tiba terdengar petir menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Dan tanpa tanda-tanda tiba-tiba saja datang angin putting beliung pula.
        Rombongan kapal layar itu hancur hangus terbakar plrh sambaran petir yang murka dan sisanya habis tergulung badai dahsyat. Tak lama kemudian terdengar elang berkulik pada tengah hari dan burung Punai yang berkelokok siang. Suaranya menegakkan bulu roma.Bunyi kedua burung terdengar mengiba seperti memohon-mohon ampun. Namun juga memperingatkan orang agar tidak berbuat seperti dirinya. Anak-anak yang tak berbakti dab durhaka kepada orang tuanya.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking